Tradingan.com - Namaku Danny, belakangan ini aku baru menyadari bahwa sebahagian dari diriku ternyata menyukai pria, sebelumnya aku mengira diriku benar-benar straight. Sebagai salah seorang bintang team basket, aku cukup populer di kalangan siswa-siswi SMU tempatku bersekolah, perawakanku yang tinggi dan kekar, kulit putih bersih dengan bulu-bulu halus di tempat-tempat tertentu dan rambut ikal yang selalu dipangkas pendek serta tentu saja wajahku yang ganteng dan macho membuatku menjadi salah satu pria idola di sekolahku. Aku tidak alim juga tidak munafik, beberapa wanita penggemarku sudah berkali-kali kurayu dan kunikmati tubuhnya, aku tidak pernah menyia-nyiakan kepopuleranku.
Aku kenal Indra sudah sejak semester tiga, tetapi baru akrab dengannya ketika kami berdua terpilih dari enam orang anggota junior untuk memperkuat team inti guna menghadapi turnamen basket antar SMU di kota kami. Indra agak pendiam dan kurang aktif berurusan dengan wanita, tetapi dia juga tidak pernah menunjukkan gejala-gejala bahwa dirinya menyukai pria secara khusus. Padahal tampang dan body Indonya keren, membuat wajah para wanita menjadi merah padam bila diajak bicara.
Saat-saat menjelang turnamen selalu membuat semua anggota team bersemangat, meskipun frekuensi latihan yang ditambah tak urung membuat tubuh kami pegal-pegal dan susah bangun pagi. Karena rumahku letaknya jauh dari sekolah maka aku jadi sering menginap di rumah Indra yang tidak jauh dari sekolah apabila team kami harus pulang malam setelah habis-habisan latihan untuk menghadapi turnamen.
Suatu malam seusai latihan, seperti biasanya begitu pintu depan rumah sewaan Indra dikunci kembali dari dalam, kami langsung menanggalkan sepatu dan pakaian latihan yang lengket di tubuh kami oleh keringat. Indra tinggal sendirian, orang tuanya yang tinggal di kota lain hampir tak pernah mengunjunginya, memang ada seorang pembantu yang mengurus rumah itu namun selalu pulang menjelang maghrib. Dengan hanya mengenakan celana dalam kami melangkah gontai ke kamar mandi lalu membersihkan tubuh kami di bawah guyuran shower. Celana dalam baru kami tanggalkan di kamar mandi, biasanya kami tak pernah saling mengomentari ketelanjangan masing-masing karena tubuh kami yang penat hanya dipenuhi niat untuk cepat-cepat mengisi perut lalu beristirahat. Namun malam itu di bawah shower, Indra menatapku dengan pandangan aneh sampai-sampai aku menjadi salah tingkah.
Terkait
“Ngapain lihat-lihat?” tanyaku.
“Gede banget, Man!” selorohnya mengabaikan pertanyaanku, matanya menatap aneh ke arah kemaluanku yang entah mengapa tiba-tiba menegang hebat. Aku melongok tanpa suara ketika tiba-tiba Indra memelukku dari belakang, tubuhnya yang basah melekat pada punggungku dan sesuatu yang kenyal dan menegang menyenggol-nyenggol bokongku. Tiba-tiba saja bangkit gairah aneh dalam diriku yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Entah rasa malu atau penasaran yang membuatku diam saja ketika jemari Indra mengelus-elus batang kemaluanku, dadaku, wajahku dan bokongku. Aku malah terangsang hebat namun tak tahu apa yang harus kulakukan untuk memuaskan gairah aneh yang meletup-letup itu. Lanjut baca!

0 Response to "Cerita Bisex Ngewe Anus Shabatku Indra"
Posting Komentar